Rabu, 15 Juli 2026

0 Mengapa Sistem Label Blog yang Harus Di-update Justru Saya Hentikan?

Mengapa Sistem Label Blog yang Harus Di-update Justru Saya Hentikan?

Banyak yang mengira Label adalah cara terbaik untuk mengelompokkan artikel di blog. Memang benar, tetapi hanya apabila jumlah postingan masih sedikit.



Ketika artikel sudah mencapai ratusan, akan muncul persoalan baru.

Setiap kali lahir kategori baru atau terjadi pengembangan atau pencabangan kategori, muncul pertanyaan:

"Apakah semua postingan lama harus dibuka kembali hanya untuk menambahkan label baru?"



Kalau iya, maka pekerjaan itu tidak akan pernah selesai.
Semakin berkembang isi blog, semakin besar pula waktu yang dibutuhkan hanya untuk memperbarui label. Akhirnya, waktu lebih banyak habis untuk maintenance daripada menulis artikel baru.


Karena itulah saya menghentikan ketergantungan terhadap sistem label.
Sebagai gantinya, saya menggunakan
ikon-ikon kategori pada sidebar kanan.




Setiap ikon tidak bergantung pada label, melainkan menggunakan query (kata kunci) untuk melakukan pencarian ke seluruh isi blog.




Keuntungannya:
  • Tidak perlu membuka kembali ratusan postingan lama.
  • Kategori dapat berkembang tanpa harus mengedit artikel yang sudah dipublikasikan.
  • Artikel lama tetap dapat ditemukan selama mengandung kata kunci yang sesuai.
  • Waktu pemeliharaan jauh lebih efisien.
  • Blog menjadi lebih mudah berkembang dalam jangka panjang.

Bagi saya, tujuan utama bukan sekadar membuat blog terlihat rapi, tetapi membangun sistem yang tetap efektif meskipun jumlah artikel terus bertambah.

Terkadang, solusi terbaik bukanlah menambah pekerjaan, melainkan mengubah cara berpikir terhadap sistem itu sendiri.


"Belajar bukan hanya tentang menambah ilmu, tetapi juga usahakan menemukan cara yang lebih baik untuk mengelolanya" 


Semakin lama saya perhatikan πŸ€”, 
pengaturan blog memiliki pola yang mirip dengan pembuatan program komputer, yaitu menyajian kemudahan bagi penggunanya.
  • Mudah digunakan
  • Mudah dikembangkan
  • Mudah dipelihara.

Bacaan lanjutan seputar program komputer.






Semoga manfaat 

Thx  ^_^


Sabtu, 04 Juli 2026

0 Perjalanan Mengenal Musik Hingga Mencipta Lagu 🀲🌺 (Jurnal)


Bagian 1: Awal Mengenal Gitar dan Terciptanya Lagu Angan


Perjalanan dalam mengenal musik berawal saat saya duduk di kelas 1 SMP. Sebagai hadiah ulang tahun dari Abah dan Umi, sebuah gitar "Osmond", yang kemudian, karena iseng, saya beri nama "Jack" πŸ˜€
Barulah setahun kemudian, sekitar 1981-1982, tetangga saya, Mas Tri Harianto, ternyata juga memiliki dan bisa memainkan gitar. Dan dari dialah, saya pertama kali belajar memainkannya.
Lagu pertama yang saya pelajari adalah lagu Naik ke Puncak Gunung dengan menggunakan 3 chord dasar: A, D dan E. 



Cara memainkannya:
Tangan kiri membentuk chord, sedangkan ibu jari tangan kanan memetik seluruh senar.

Pola petikannya:
  • Satu petikan dari atas ke bawah.
  • Dilanjutkan dua petikan dari bawah ke atas.
  • Ulangi pola tersebut hingga lagu selesai.

Dari sanalah kecintaan saya terhadap musik mulai tumbuh.

Bahkan jam tidur malam pun menjadi tertunda-tunda karena saya masih ingin terus memainkan, "...ke puncak gunung".

Sampai ibu saya bilang,
"Udah dong latihannya, besok lagi..."

Saya pun menjawab,
"Coba dengerin dong... sekali lagi nih, sekali lagi..." πŸ™πŸ˜€

(Karena waktu itu saya masih tidur bersama Abah dan Umi.. 🀭)

Keesokan malamnya, ternyata lampu tidur di kamar sengaja tidak dinyalakan. Cahaya di kamar sangat minim, hanya berasal dari luar jendela.

Dengan bangga saya berkata,
"Mi..., dek Arief bisa mainin gitar tanpa melihat..." πŸ€£πŸ˜‚

(Masya Allah, Al Fatihah untuk mereka berdua, Abah dan Umi 🌺)


Selang 2-3 tahun setelahnya, hadirlah sebuah ukulele, yang oleh teman SMA saya, Ryan, diberi nama Mi'e.

Lagu pertama yang saya ciptakan adalah Angan, pada tahun 1984, saat saya masih duduk di kelas 1 SMAN 20 Jakarta. Lagu yang beraroma cinta ini terinspirasi dari seorang cewek tetangga sepupu saya, mbak Yayuk, di Muara Karang, meskipun sebenarnya Angan merupakan lagu kedua yang tercipta.

Lagu ini pula yang pernah dibawakan oleh teman-teman di Vokal Grup Vesma 20 pada acara perpisahan kelulusan kakak-kakak kelas.

Setahun kemudian saya ikut kursus gitar di Vidi Vici, pimpinan Uli Sigar Rusady. Namun tidak lama, karena saya lebih terbiasa bermain secara alami.

Agar tidak lupa dengan nada-nada baru yang muncul, saya biasa menuliskan notasi awal pada media apa pun yang tersedia, mulai dari buku sekolah hingga di secarik kertas yang kebetulan ada di dekat saya. Biasanya saya juga langsung menuliskan tema atau potongan syair utama lagu tersebut.




Bagian 2: Era Tape Wartawan dan Proses Merekam Ide Lagu


Memasuki tahun 2000, saya kembali memiliki gitar akustik, "Yamaha C-330". Menggantikan posisi gitar Osmond, yang hilang keberadaannya di tangan seorang teman yang meminjamnya. 

Dengan perangkat tape wartawan, ide-ide lagu mengalir begitu deras. Hampir setiap kali muncul inspirasi, saya segera merekamnya ke dalam kaset kosong agar tidak hilang. 

Umumnya diiringi gitar atau ukulele kesayangan. Tetapi pada keduanya sebenarnya ada perbedaan:
  • Ukulele menghadirkan nuansa yang ringan, ceria, dan easy-going. Ia seolah mengajak pendengarnya menikmati hidup dengan langkah yang santai.
  • Gitar memiliki dunia yang jauh lebih luas. Dari kegembiraan hingga kesedihan, dari kelembutan hingga kemegahan, gitar mampu menjelajahi hampir seluruh spektrum emosi dengan kedalaman yang sulit dicapai oleh ukulele.
Lagu-lagu lama yang sebelumnya belum sempat direkam pun mulai saya abadikan satu per satu.


Gambar dibawah ini adalah tape wartawan generasi ke-dua yang saya miliki.



Setiap kaset selalu saya beri nomor urut. Pada sampulnya saya menuliskan berbagai catatan, mulai dari judul lagu, tema, genre, hingga penilaian pribadi terhadap kualitas notasinya.

Tanpa terasa, dua tahun pun berlalu. Belasan kaset rekaman telah terkumpul, berisi sekitar 90 lagu yang telah memiliki syair serta sekitar 80 lagu yang masih belum memiliki syair.



Sebuah lagu biasanya lahir dari adanya peristiwa yang berkaitan dengan perasaan. 
Tetapi ada kalanya juga, sebuah lagu lahir ketika saya membayangkan seorang penyanyi yang membawakannya.

Sebagai contoh, ketika membayangkan sosok penyanyi Desy Ratnasari, tiba-tiba muncul sebuah lagu dengan notasi dan syair yang menurut penilaian saya, memiliki kualitas yang sangat baik. Namun, lagu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena membutuhkan jangkauan vokal sekitar dua oktaf. Hingga kini, saya masih merasa cukup sulit menemukan penyanyi yang mampu membawakannya sesuai dengan karakter lagu tersebut.

Sayangnya, lagu yang terinspirasi dari sosok Desy Ratnasari tersebut belum bisa saya bagikan pada postingan ini karena hingga saat ini belum saya daftarkan ke WAMI, begitu pula dengan lebih dari 80 lagu lainnya.


Bro, 
Ketika saatnya tiba, nada dan syair akan mengalir dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksakan.

Itu artinya: 
Hatimu Tengah Berbicara,
maka Abadikanlah.. πŸ™πŸŒΊ

(Ridho-Nya, Masya Allah..)



Bagian 3: Pendataan Ratusan Lagu Menggunakan Lotus 1-2-3


Beberapa tahun kemudian, semangat itu muncul kembali. Saya mulai mendata seluruh karya menggunakan komputer dengan aplikasi Lotus 1-2-3. Saya juga mengumpulkan syair-syair lagu yang tercecer di berbagai media, seperti buku, kalender, amplop, dan lembaran kertas lainnya.

Seluruh lagu kemudian saya data dalam bentuk tabel, meliputi keseluruhan lagu, baik lagu bersyair maupun lagu instrumental.

Sebagai contoh, lagu "Salah Siapa", di dalam tabel tercatat:
  • Notasi awal berada di kaset nomor 3 side B 
  • Lagu yang sudah bersyair di kaset nomor 4 side B
  • Naskah syair asli berada di halaman 3 
  • Tanda "!", dalam penilaian saya, lagu ini memiliki notasi dan syair yang cukup menarik.




Bagian 4: Mendirikan Band dan Pengalaman Mendapat Tanggapan dari Musica Studio


Saya juga pernah mendirikan sebuah band Oxygen, tahun 2000, bersama dua keponakan, Teguh dan Vio.

Oh ya, di lingkungan keluarga saya sebenarnya dipanggil Arief. Namun, sejak keponakan saya, Teguh, lahir, entah bagaimana saya justru lebih sering dipanggil Awi. Nama panggilan itu pun bertahan hingga sekarang.


Pembagian tugas dalam band Oxygen:
  • Teguh, memegang drum
  • Vio, memegang bass gitar dan backing vokal
  • Saya sendiri, memegang rithm dan vokalis.

Dengan membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri, salah satu lagu berjudul Salah Siapa bahkan pernah mendapatkan tanggapan positif dari Musica Studio, Chrisdiah, meskipun saat itu disarankan untuk mengganti vokalis. Sayangnya, kami belum berhasil menemukan vokalis yang sesuai.

Video berikut memperlihatkan salah satu lembar catatan latihan yang saya buat. Di dalamnya terdapat skema pembagian permainan antar personel, pengulangan bagian lagu, serta susunan melodi dan drum saat membawakan lagu "Salah Siapa".



Catatan sederhana ini menjadi saksi bagaimana kami menyusun aransemen secara mandiri, hanya berbekal semangat untuk berkarya.

Meskipun perjalanan band Oxygen tidak berlangsung lama, pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan berharga dalam perjalanan saya di dunia musik.

Saat itupun akhirnya muncul, dimana saya mengalami masa jenuh, ketika tidak lagi merasakan manfaat dari melanjutkan proses rekaman lagu-lagu baru.
Di tengah kejenuhan tersebut, Allah SWT mempertemukan saya dengan sebuah pengalaman baru yang kemudian mengubah arah perjalanan musik saya.
Tahun 2002 saya memperoleh keyboard Casio CTK-811ex.



Bagian 5: Perubahan Arah dari Cipta Lagu menjadi Penyusun Aransemen Musik


Tahun 2002, saya memperoleh keyboard Casio CTK-811ex. Fitur perekaman multitrack 16-track yang dimilikinya membuka dunia baru bagi saya. Sejak itulah perhatian saya perlahan bergeser dari sekadar menciptakan lagu menjadi belajar menyusun aransemen musik.

Casio CTK-811ex yang saya miliki

Proses menyusun aransemen di Casio CTK-811ex bukanlah pekerjaan yang sederhana. Sebelum proses perekaman minus-one dimulai:
  • Saya harus menentukan rhythm yang akan digunakan, atau bahkan memodifikasinya sesuai kebutuhan lagu. 
  • Memilih atau mengubah karakter suara tone apabila diperlukan...
  • Lalu menyusun bagian Intro, Normal, Variation, Fill-in, hingga Ending secara manual. 
  • Setelah itu, setiap instrumen direkam satu per satu ke dalam track yang berbeda.
  • Seluruh parameter, seperti volume, expression, pan, effect, dan transpose, juga harus diatur dan dicatat secara manual agar tidak hilang. 
  • Tidak jarang satu aransemen membutuhkan waktu berhari-hari sebelum benar-benar selesai.

Bentuk pencatatan aransemen di atas ditulis dengan cara seperti di bawah ini.



Berikut video salah satu hasil aransemen yang saya susun menggunakan Casio CTK-811ex. Lagu berjudul GeeR ini kemudian direkam dan dibawakan oleh Cynthia.



Semoga suatu hari nanti saya dapat kembali bertemu Cynthia atau setidaknya mengetahui kabarnya.



Bagian 6: Digitalisasi Kaset Menjadi MP3 dan Publikasi di YouTube

Seiring perkembangan teknologi, rekaman-rekaman kaset tersebut akhirnya saya konversi ke format MP3 agar dapat didengarkan melalui berbagai perangkat, seperti telepon genggam, komputer, maupun pemutar musik lainnya. Dengan demikian, proses pengolahan dan pengembangan lagu di kemudian hari menjadi lebih mudah.

Karena banyaknya kendala dalam membentuk sebuah grup band, rekaman langsung di studio menjadi salah satu alternatif yang paling memungkinkan untuk dilakukan.
Seperti lagu Salah Siapa di bawah ini, yang merupakan hasil rekaman di Studio Iqbal. 


Memang, hasil akhirnya terkadang berbeda dengan aransemen yang dimainkan sebelumnya. Namun, saya menyadari bahwa para personel studio adalah musisi profesional yang tentu memiliki pemahaman dan pengalaman bermusik jauh lebih baik daripada saya.


Beberapa lagu hasil rekaman tersebut juga telah saya unggah ke YouTube.

Alhamdulillah, hingga hari ini saya masih menjaga titipan-Nya. Semoga dapat membawa manfaat.


Tidak aku, tetapi Dia.
(Masya Allah, Alhamdulillah..
Astaghfirullah πŸ˜”)




Thx  ^_^



Rabu, 01 Juli 2026

0 Mekanisme Antena TV Sederhana Terbaik

Ternyata ide adik iparku, mas Agus, dalam menangani antena TV digitalnya keren juga.
Saya baru mengetahuinya setelah ikut membantu dalam menyetel arah agar televisi di rumahnya bisa menangkap sinyal stasiun tv lebih baik, karena ingin mendapatkan kualitas siaran yang lebih baik saat menonton pertandingan Piala Dunia.


Tampak tampilan antena yang menjulang di atas atap.



Dan yg menarik disini adalah mekanisme batang penyangga antena itu sendiri.
Menggunakan pipa besi utama berukuran 2 inchi sepanjang 4 meter, dan penopang bawah menggunakan pipa besi yg berukuran sedikit lebih besar dari batang pipa utamanya yg berukuran 2 inchi.


Sementara tampilan pada bagian antena yang berada di bawah atap. 




Nah bagian menariknya, adalah di bagian penopang tiang dan pengunci agar antena tidak mudah berputar karena tertiup angin. 




Coba perhatikan..
Bagian penopang tiang menggunakan dua buah dynabolt yang ditanam ke dalam tembok. 

Pada gambar ini terlihat dynabot pertama sebagai penopang tiang bagian atas dan sekrup penahan arah antena agar tidak mudah berubah tertiup angin.



Serta dynabot kedua sebagai penopang tiang bagian bawah.



Satu trik tambahan yang baru saya ketahui adalah pada ujung pipa bagian atas dan sambungan kabel di perangkat antena diberi lem silikon (lem akuarium). Tujuannya untuk meminimalkan masuknya air dan udara lembap yang dapat mempercepat proses oksidasi pada sambungan, sehingga kualitas sinyal dan usia pakai antena bisa lebih terjaga.

Saya sempat tanyakan, apa tidak takut kemungkinan tersambar petir?
Beliau beranggapan, Aman, karena banyak bangunan tinggi di sekitarnya. 




Cara sederhana tetapi efektif.. πŸ˜€

Semoga manfaat.



Thx  ^_^






Popular posts

Pengikut

Buku Tamu

Flag Counter
 

o2 fresh Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates