Selama menjalani pengobatan Covid 19, saya sempat diwajibkan menggunakan oksigen.
Pada kondisi tertentu, tubuh saya tidak mampu menarik napas dengan baik tanpa bantuan oksigen.
Tanpa oksigen, sedikit saja tarikan napas langsung memicu batuk yang tidak bisa dikendalikan, dan justru semakin mempersulit pernapasan.
Pada masa itu, saya cukup sering memperhatikan tabung dan regulator oksigen.
Penambahan air pada gelas tabung regulator terkadang saya lakukan sendiri, bahkan sesekali ikut membantu mengisikan air pada regulator oksigen pasien di sebelah saya.
Beberapa kali saya mengalami aliran oksigen yang tiba-tiba mengecil. Regulator pun diganti dengan regulator lainnya.
Hingga pada suatu saat, ketika saya mengisi air di tabung regulator milik pasien sebelah, saya tidak melihat adanya benda kecil berwarna putih di ujung pipa regulator—bagian yang biasanya bersentuhan langsung dengan air di dalam gelas tabung.
Pada saat itu saya justru melihat aliran oksigen yang sangat melimpah.
Saya kemudian menyadari bahwa benda kecil tersebut kemungkinan berfungsi untuk memecah gas oksigen menjadi partikel yang lebih halus agar tersaring oleh air dengan lebih sempurna.
Akhirnya, saya memutuskan untuk melepaskan bagian kecil tersebut agar aliran oksigen kembali lancar.
Saya sadar, langkah ini bukan cara terbaik dan bukan pula anjuran medis, tetapi pada saat itu saya merasa perlu mengambil keputusan agar suplai oksigen tetap berjalan tanpa hambatan.
Pada kondisi lain, adakalanya aliran oksigen terasa sudah besar, tetapi napas tetap terasa kurang maksimal.
Dalam situasi seperti ini, masker oksigen juga perlu diperiksa.
Karet silikon yang menempel pada masker mudah terlepas, dan bila tidak disadari, oksigen justru banyak terbuang keluar.
Dalam kondisi darurat, lubang masker yang terbuka sementara dapat ditutup agar oksigen tetap terhirup dengan baik.
Ketika bersama teman-teman sekamar..

















0 comments:
Posting Komentar